Welcome to My Blog!

Enjoy Reading!
Follow Me
Sebuah restoran di Filipina yang menjanjikan pengunjung dengan suasana makan menyegarkan, dengan background air terjun tepat belakangnya. 

Hmm... ini sangat unik dan menarik bagi saya, berharap suatu saat akan mampir kesini. hehe..


 






















Yaa, restoran ini bernama The Labassin Waterfall Restaurant yang berada di Villa Escudero Resort di San Pablo City, Filipina.









Selain menyajikan suasana alam yang menyegarkan restoran unik ini menyajikan sajian makanan lokal yang khas, di sajikan di atas meja bambu, dengan banyak tambahan air di kaki anda. brrr...! sudah kebayang kan gimana dingin air terjunnya?!

Tentu saja banyak air, karena restoran ini berada tepat di tengah sungai. wkwk!

Anda akan merasakan kebasahan air di seluruh kaki anda, karena restoran ini bukan beralantaikan karpet, papan atau dengan keramik, namun berlantaikan air.







Restoran ini sedikit mengingatkan saya dengan sebuah lagu dandut yang terkenal, dan semua pasti sudah tau..

yaaa.. tepat sekali, lagu “basah.. basah... seluruh tubuh.. aah.. ahh, mandi madu.. Haha :)



Nah, mungkin anda akan tertarik untuk berkunjung kesini, apalagi bila anda saat ini sedang merencanakan liburan ke Fillipina. Maka tempat ini harus anda kunjungi, dan jangan lupa ajak-ajak saya yaa...?! he..he..! *Ngarep!































Air terjun ini memang bukan yang alami, ia merupakan air terjun buatan yang dulunya merupakan sebuah bendungan untuk pembangkit listrik dan saluran irigasi pertanian di dekat lokasi sekitar.

Bila anda makan disini anda tidak perlu repot-repot untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dan mungkin bahkan untuk minum, karena jelas disini ketersediaan air sangat banyak. wkwkwk! Inilah bonus kenapa makan di air terjun. Hahaha. . .

Namun, kalau untuk minum jelas tidak saya sarankan, bukan alasan karena restaurannya banyak air dan anda di kelilingi oleh air maka anda mau meminumnya juga bukan?

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain makan di restoran unik ini, Anda sebagai pengunjung di perbolehkan untuk mandi di dekat kaki air terjun, apabila telah selesai makan tentunya, namun hal yang terpenting anda jangan sampai lupa untuk membayar semua makanan yang telah anda pesan yaaa??! Hee..hee.. :)




 

Villa Escudero adalah sebuah resort yang bergaya hacienda di Filipina, dengan kamar yang nyaman dan suasana eksotis. Tapi apakah yang membuatnya terkenal di dunia, itu adalah karena terdapat restoran air terjun, yang membiarkan pengunjung untuk menikmati makan sambil merendamkan kakinya di air yang sedang mengalir.

Istilahnya bayar makan plus minum dan mandi gratis... tiss...! wkwkwk!

Mungkin setelah membaca ini anda mungkin akan tertarik untuk berkunjung kesini atau mungkin terinspirasi untuk membuat restoran dengan tema yang sama, hmmm.. selamat mencoba. . . . . . !


Alkisah, pada zaman dahulu di kepulauan Natuna, hiduplah sepasang suami istri, yaitu Shaleh dan Sarimah.








Suatu hari, mereka memutuskan untuk merantau ke pulau Bunguran, dengan niat agar bisa hidup lebih baik.


Kemudian mereka pun tiba di pulau Bunguran, disana mereka hidup rukun dan bahagia. Para tetangga pun menyukai mereka. Selain ramah, mereka juga senantiasa saling menolong dan membantu sesama. Tetangga mereka Mak Tusah, seorang bidan kampung pun selalu bersedia menolong mereka jika salah satu di antara mereka ada yang sakit.


SSuatu hari, Shaleh menemukan sarang teripang, yaitu binatang laut yang mahal harganya jika dikeringkan dan dijual. Dan semenjak itulah Shaleh dan istrinya pun menjadi saudagar teripang yang kaya raya, hidup mereka mewah dan bergelimang harta.


Namun kehidupan yang mewah mengubah sikap Sarimah, ia menjadi sombong dan pelit. Perempuan itu pun tidak mau lagi bergaul dengan para tetangganya yang miskin.


Pernah suatu hari, Mak Tusah datang untuk meminjam beras kepadanya. Namun beras tidak diberikan, malahan Mak Tusah dibentaknya dan Sarimah malah mengungkit semua utang-utang yang dimiliki oleh Mak Tusah.


Mendengar ucapan Sarimah Mak Tusah pun menjadi sangat sedih, ia seakan tak percaya Sarimah akan berucap begitu terhadapnya, sungguh besar perubahan Sarimah setelah menjadi orang kaya raya.


Di hari lainnya, pernah datang seorang tetangga kerumah Sarimah hendak meminta daun kelapa yang ada di depan rumahnya. Bukannya memberikan begitu saja, malah tetangga itu di maki-maki dengan nada menghina dan di usir sendiri oleh Sarimah.


Mendapat semua kelakuan buruk dari Sarimah, para tetangga pun menjauhi Sarimah, tak ada yang berani lagi meminjam ataupun meminta kepadanya, bahkan untuk menyapanya saja mereka enggan.


Suatu waktu, tibalah saatnya Sarimah melahirkan. Ia dan suaminya sudah memesan bidan dari pulau seberang, tetapi bidan yang di minta tak kunjung datang. Akhirnya, Shaleh pun mencoba meminta bantuan kepada Mak Tusah dan juga kepada tetangga lainnya.

Namun, tak seorang pun mau menolong karena mereka pernah di sakiti oleh Sarimah.

Dengan upaya keras Shaleh membawa istrinya ke pulau seberang untuk menemui bidan. Mereka menggunakan sebuah perahu besar untuk menuju kesana, Sarimah meminta suaminya untuk membawa semua peti perhiasan yang dimiliki mereka ke dalam perahu milik mereka.


Shaleh pun menuruti kemauan istrinya, mereka membawa semua peti perhiasan, lalu menjalankan perahu itu.

Setelah perahu di jalankan ternyata, semakin ketengah, gelombang laut semakin besar, air masuk kedalam perahu. Semakin lama, muatan perahu semakin berat. Dan kemudian perahu pun tenggelam bersama seluruh perhiasan yang mereka bawa.


Shaleh dan istrinya berusaha menyelamatkan diri. Sarimah berpegangan pada ikat pinggang suaminya. Mereka berusaha keras berenang ke tepian di tengah gelombang laut yang sangat ganas.


Tubuh Sarimah timbul dan tenggelam, badannya berat, karena sedang mengandung dan ditambah banyaknya perhiasan yang ia pakai, akhirnya mereka sampai ke pulau bunguran timur.


Saat Sarimah yang sombong dan kikir menginjakkan kaki di pulau itu, tiba-tiba guntur menggelegar. Tampakanya, tanah bunguran tidak mau menerima kedatangan perempuan itu.


Tiba-tiba saja tubuh Sarimah yang dalam keadaan mengandung berubah seketika menjadi sebongkah batu besar.


Dan lama kelamaan, batu tersebut berubah menjadi semakin besar dan membesar hingga membentuk sebuah pulau. Pulau tersebut berbentuk seperti sosok perempuan hamil yang sedang berbaring yaitu merupakan sosok dari Sarimah yang kini telah berubah menjadi pulau.


Masyarakat sekitar menamai pulau tersebut dengan pulau senua. Menurut bahasa masyarakat setempat "senua" artinya adalah berbadan dua atau mengandung. 

Semua perhiasan emas dan perak yang meliliti tubuh Sarimah juga berubah menjadi burung walet.


Pulau Senua terletak di ujung tanjung senubing atau berada tepat di depan pesisir pantai Desa Sepempang, Bunguran Timur.

Hingga kini, pulau Bunguran terkenal dengan sarang burung waletnya. Baca juga artikel lainnya : Photo Keindahan Objek Wisata Pulau Senua


"Adapun hikmah yang dapat di petik dari cerita tersebut adalah jangan pernah sesekali menjadi orang yang pelit dan tamak terhadap harta, dan senantiasalah kita harus saling membantu sesama dalam keadaan berlebih ataupun kekurangan. Karena rizki tak akan pernah berkurang jikalau kita sering berbagi kepada sesama, apalagi kepada orang yang kekurangan"


***Cerita ini telah di sunting dari versi yang ada di buku cerita "88 Cerita terbaik asal muasal nama daerah", dan sesungguhnya versi dari Legenda pulau senua ada begitu banyak macam versinya,  di atas hanyalah salah satu versinya saja, namun satu hal yang perlu di ingat bahwa legenda pulau senua menceritakan tentang perempuan yang pelit dan tamak dengan harta hingga ia di kutuk menjadi sebuah pulau.


Natuna pada saat ini mungkin hanyalah pulau kecil yang letak paling jauh di utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan dan semenanjung Malaisya. Namun, dahulu kala, Natuna ternyata menjadi pelabuhan penting di Asia Tenggara, bak Singapura pada masa kini.



Nanik Harkatiningsih, peneliti Pusat Arkeologi Nasional mengatakan bahwa "Natuna menjadi semacam pelabuhan transit perdagangan pada saat itu dan selain itu fungsi Natuna sebagai pelabuhan transit bisa diketahui dari sejumlah artefak maritim yang ditemukan di perairan sekitar wilayah tersebut.



Bersama tim arkeolog Arkenas ia meneliti kapal-kapal karam di perairan sekitar Natuna. Dia menemukan keramik-keramik dan jejak perdagangan rempah-rempah. Keramik yang ditemukan berasal dari Tiongkok, Indonesia, dan Jepang. Keramik yang ditemukan menjadi bukti aktivitas perdagangan saat itu.

Para pedagang singgah di Natuna tidak hanya untuk beristirahat, tetapi juga mencari komoditas rempah penting andalan wilayah itu.
Pada saat itu, Natuna terkenal dengan pala dan gaharu. Gaharu menjadi komoditas andalan Natuna pada saat itu.





Temuan kapal karam dan keramik di Natuna sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia sudah punya peran penting dalam perdagangan global sejak abad ke-8.

Pada abad ke-13, kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara terang-terangan menyebut diri sebagai bagian dari kesatuan "Tanah di Bawah Angin".

Jalur perdagangan saat itu bukan hanya jalur sutra, melainkan juga jalur rempah. Jalur itu menghubungkan wilayah dunia lain ke Nusantara.

(sumber:Kompas.com)
Berikut kumpulan photography Gunung Ranai, Natuna, Kepulauan Riau. Check It Out!




Gunung Ranai adalah gunung dataran rendah dengan ketinggian 1.035m dari permukaan laut, gunung ini tepat berada di Kota Ranai, yaitu ibu kota Kabupaten Natuna. Akses untuk mendaki ke Gunung Ranai sangatlah mudah, karena jikalau anda pertama kali tiba ke Natuna anda akan langsung di suguhi dengan pemandangam eksotis dari gunung ini, bagaimana tidak Gunung Ranai merupakan latar belakang atau back ground dari kota kecil yang indah ini.



Masjid agung natuna dengan background gunung ranai


gunung ranai


masjid agung natuna dengan background gunung ranai


gunung ranai di ambil dari jalan raya


gunung ranai yang di ambil dari tegul senubing perbatasan desa sepempang dan kota Ranai


gunung ranai


gunung ranai


gunung ranai




pemandangan gunung ranai di ambil dari pulau senua
gunung ranai yang di ambil dari lepas pantai di desa sepempang


gunung ranai dari bandara lanud ranai, penagi


gunung ranai tampak dari pantai tanjung, desa tanjung


gunung ranai dari bandara ranai





Dan berikut kumpulan photo sunset dan sunrise Gunung Ranai nya yang awesome banget, check this out!


gunung ranai ketika sunset


gunung ranai ketika sunset


gunung ranai di ambil dari pelabuhan penagi


Sumber photo : Googleimages & Private Collection
Gunung Ranai adalah gunung yang terletak di Kota Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Keberadaan pulau Natuna ialah berada di ujung utara wilayah Indonesia yang berbatasan dengan laut China Selatan dan berbatasan langsung dengan semenanjung Malaisya, dengan luas wilayah 264.198 kilometer persegi sebagian besar adalah perairan dengan luas 262.197 kilometer persegi. Sebagai kabupaten yang memiliki area sangat luas, Natuna hanya berpenduduk 92.060 dengan laju pertumbuhan pertahun 0,87 persen. Suhu di Natuna versi BPS relatif dingin yaitu 22,7 derajat celcius. Dan baca juga Keadaan Geografis Natuna.








Gunung Ranai merupakan gunung dataran rendah, sebab ketinggiannya berkisar antara 300—1.035 meter di atas permukaan laut (dpl). Bagi mereka pelancong yang sudah pernah mendaki gunung ini, mengatakan bahwa Gunung Ranai sangatlah unik. Dikatakan unik karena di gunung ini banyak ditemukan jenis pepohonan langka dan tidak umum tumbuh di dataran ketinggian standardnya. 


Fenomena menarik yang ditemui oleh pendaki, yaitu gradasi jenis-jenis tanaman yang terdapat di gunung ini. Pada ketinggian tertentu, para pendaki akan menemukan tipe-tipe vegetasi yang memperlihatkan ciri khas pegunungan dataran atas yang biasanya tumbuh pada gunung di ketinggian 2.000 meter.

Pada ketinggian 800 meter dpl, hutan di Gunung Ranai masih dominan ditumbuhi oleh jenis-jenis tanaman seperti meranti (dipterocarpaceae), rasamala (altingia excelsa), keruing (dipterocarpus spp0 dan turi (quercus spp). Sedangkan di atas ketinggian itu, tampak perubahan tipe vegatasi, yaitu perubahan dari tipe hutan dataran rendah ke tipe kawasan hutan dataran atas. Hal ini terlihat misalnya dari tumbuh-tumbuhan yang didominasi oleh semak, belukar, dan pohon-pohon dengan ukuran pendek seperti umumnya pada hutan dataran atas. 



Fenomena alam ini biasa disebut sebagai hutan berawan dataran rendah (Lowland Cloud Forest). Hutan berawan (Cloud Forest) umumnya terjadi di wilayah pegunungan yang terdapat di pulau besar serta jauh dari pantai, atau bisa juga terjadi pada pegunungan di wilayah pulau yang kecil serta dekat dengan pantai. 

Tipe hutan seperti ini sebagian wilayahnya sering diselimuti oleh kabut, sehingga memungkinkan tipe-tipe vegetasi tertentu dapat tumbuh di kawasan gunung tersebut.

Untuk mencapai puncak Gunung Ranai, para pendaki harus melampaui tiga puncak berupa tebing batu dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Puncak pertama bernama Puncak Serendit dengan ketinggian 968 meter. Puncak ini merupakan gugusan tebing dengan tinggi mencapai 100 meter. Puncak selanjutnya adalah Puncak Erik Samali yang berada pada ketinggian 999 meter dpl. Puncak ini merupakan tebing kedua dengan tinggi tebing sekitar 150 meter. Sementara puncak ketiga (puncak tertinggi) bernama Puncak Datuk Panglima Husin, terletak pada ketinggian 1.035 meter. Seperti dua puncak sebelumnya, Puncak Datuk Panglima Husin juga merupakan tebing dengan ketinggian kira-kira 200 meter.


Gunung Ranai memiliki tiga puncak yaitu:

1.Puncak Serendit (968 meter)

2.Puncak Erik Samali (999 meter)

3.Puncak Datuk Panglima Husin (1,035 meter)







(sumber : tribunnews.com)